Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
, ,

Ingin Berjuang Tanpa Resiko?



Ada sebuah hadits yang menyatakan:

“Tidaklah patut seorang mukmin itu menghinakan dirinya”. Para shahabat bertanya: ‘Bagaimana dia menghinakan dirinya?‘ Rasulullah saw menjawab: “Dia melibatkan diri pada permasalahan yang ia tidak mampu menghadapinya”.


Sebagian kaum muslimin menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa seorang muslim seyogyanya menjauhkan diri dari permasalahan-permasalahan yang berat. Lebih jauh, mereka mengambil hadits ini sebagai rukhshah (keringanan syara’) untuk meninggalkan sebagian kewajiban dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang diharamkan –demi menjauhkan diri, agar tidak terlibat dalam permasalahan yang penuh resiko. Misalnya, perjuangan politik untuk menegakkan daulah Islam, tentu akan membawa pelakunya kepada ancaman para penguasa; mulai dari penjara, dipecat dari pekerjaan, sampai penyiksaan secara fisik. Pertanyaannya, apa benar bahwa di dalam hadits tersebut, ada rukhshah untuk meninggalkan usaha da’wah dalam keadaan seperti ini dan berdiam diri terhadap sistem yang sedang berlaku di seluruh dunia Islam sekarang?

Sebelum membicarakan fiqh hadits tersebut di atas, terlebih dahulu akan kita bicarakan sanadnya; untuk mengetahui apakah benar hadits tersebut telah diucapkan Rasulullah saw? Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa Hadits ini adalah hadits Hasan-gharib. Tentang hadits tersebut, Ibnu Abi Hatim berkata bahwa ini adalah hadits munkar (tertolak)’. Sedangkan menurut Al Albani, “Itu adalah hadits munqathi’ (terputus sanadnya)”. Lebih lanjut beliau menambahkan: “Ada hadits marfu’ dari Ibnu ‘Umar yang mirip dengan hadits ini, yang di dalam sanadnya ada Zakaria bin Yahya Al Madaîni”.

Tentang orang ini, Al Albani berkomentar bahwa jika yang dimaksud adalah Abu Yahya Al Lu`lu`i (Abu Yahya AlMadaini), berarti hadits tersebut adalah shahih. Dengan kata lain, beliau menggantungkan keshahihan hadits tersebut dengan syarat ini1).

Tentang putusnya sanad pada alasan pertama, cukup kuat diterima. Sedangkan pada alasan kedua, didalam sanadnya terdapat perawi majhul (tidak diketahui). Sehingga tidak boleh menjadikan hadits seperti ini sebagai dalil, karena memang belum mencapai tingkatan riwayat yang shahih atau hasan. Walaupun sebagian Perawi hadits mengatakannya hasan, tentulah karena mereka tidak mengetahui cacat yang tersembunyi dalam hadits ini.

Ini dari segi sanad. Adapun dari segi makna (mafhum hadits), kita harus memahaminya melalui konteks hadits-hadits yang shahih serta ayat-ayat suci yang menjelaskan masalah ini. Tentang ungkapan Rasul pada ujung hadits tersebut:

“Melibatkan diri pada permasalahan yang ia tidak mampu menghadapinya”. Harus difahami secara syar’i untuk menentukan apa sebenarnya batas kemampuan, dan tindakan apa yang dianggap oleh syara’ “di luar kemampuan”.

Adapun hal-hal yang di luar kemampuan manusia, itu jelas tidak diwajibkan syara’ atasnya. Sesuai dengan apa yang tertera dalam surat Al Baqarah ayat 286:

“Allah tidak membebani (sesuatu) pada seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya”.

Oleh karena itu, tidak boleh membiarkan setiap individu menentukan sendiri batas kemampuan atau batas kesanggupan sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Tetapi yang menentukannya adalah syara’ semata. Untuk pemahaman yang lebih lanjut, marilah kita menelaah kembali tafsir ayat 106 dari surat An Nahl yang berbunyi:

“Siapa saja yang kufur kepada Allah setelah ia beriman, kecuali seseorang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap teguh dengan iman”.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan2): ["Orang-orang Musyrik Quraisy menangkap 'Ammar bin Yasir, lalu mereka menyiksanya sampai ia hampir-hampir menuruti sebagian keinginan mereka. Kemudian ia adukan hal tersebut kepada Nabi saw. "Bagaimana kau mendapati hatimu?", tanya beliau. "Tetap teguh dengan Iman", jawabnya. Lalu Rasulullah bersabda: "Kalau mereka mengulangi lagi perbuatannya, maka ulangilah sikapmu itu".]

Ibnu Katsir kemudian menambahkan: ["Oleh karena itu, para Ulama telah sepakat bahwa seseorang yang dipaksa kufur, dibolehkan baginya menuruti keinginan pihak yang memaksanya, demi keselamatannya. Boleh juga ia menolak, seperti yang dilakukan Bilal ra, yang mengabaikan mengucapkan kata-kata kufur, walaupun mereka melakukan berbagai penyiksaan terhadapnya. Bilal hanya mengucapkan "Ahad" berkali-kali, sambil mengatakan: "Kalau aku tahu ada satu kata lain, yang akan menyebabkan kalian lebih marah, tentulah akan aku katakan!" Radliallahu Anhu. Demikian juga yang dilakukan oleh Habib bin Zaid Al Anshari terhadap pertanyaan Musailamah Al Kadzdzab kepadanya: "Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah?" "Ya, benar", jawabnya. Kemudian Musailamah bertanya lagi: "Apakah engkau juga bersaksi bahwa Aku ini Rasulullah? Dia menjawab: "Itu tidak pernah kudengar". Lalu Musailamah menyiksanya dengan cara memotong-motong tubuhnya hidup-hidup (dicincang), sedangkan Habib bin Zaid tetap teguh dengan sikapnya itu.]

Ibnu Katsir menambahkan: ["Lebih utama dan lebih baik bagi seorang Muslim tetap teguh memegang agamanya, sekalipun akhirnya ia dibunuh, seperti yang dikatakan juga oleh Al Hafidz ibnu 'Asakir dalam menulis catatan biografi Abdullah ibn hudzafah As Sahmi"].

Bertolak dari penjelasan tersebut di atas, maka seorang Muslim tidak boleh meninggalkan fardlu atau melakukan perbuatan haram/maksiyat, kecuali apabila dihadapkan kepada suatu cobaan yang sungguh-sungguh tidak sanggup ditanggungnya. Batas kemampuan dan kesanggupan itu adalah apa yang disebut oleh syari’at Islam dengan istilah “Al Ikraahul Mulji’”, yaitu paksaan yang mendorong seorang muslim untuk melanggar ketentuan hukum syara’, yang ia benar-benar disiksa/disakiti. Atau, ia mengira dengan pasti bahwa ia akan disiksa dengan siksaan yang sangat mengkhawatirkan kematiannya atau menyebabkan kelumpuhan, misalnya patah tulang-tulangnya, tubuhnya dicincang dan sebagainya. Siksaan semacam itu yang dapat menimpa seseorang akan memberinya rukhshah untuk mengerjakan sebagian perbuatan haram/maksiyat dan bukan setiap perbuatan maksiyat yang diharamkan. Itupun dengan syarat: tidak mendorongnya untuk melakukan perbuatan haram lainnya yang lebih besar atau yang serupa dengannya. Misalnya, ia dipaksa menjadi mata-mata, disuruh membunuh orang, atau melakukan homoseks dengan nara pidana, atau membocorkan rahasia gerakan yang ia menjadi anggotanya, dan lain lain.

Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh meninggalkan fardlu atau mengerjakan hal-hal yang haram, hanya karena rasa takut dihina, dipenjara, atau setelah disiksa dengan siksaan yang ringan, atau karena ingin mempertahankan pekerjaannya, menyelamatkan hartanya, dan sebagainya. Sebab, semua ini masih termasuk dalam batas kemampuan manusia dan bukan di luar kemampuannya. Juga, hal seperti itu belum sampai kepada batas “al Ikraahul Mulji’”, seperti yang telah dijelaskan di atas.

Kalau saja setiap masalah yang memberatkan diri seorang Muslim terdapat rukhshah baginya untuk meninggalkan semua fardlu /kewajiban dan mengerjakan perbuatan-perbuatan haram /maksiyat, tentulah Islam tidak dapat tegak di bumi ini. Bahkan, tidak akan pernah muncul suatu ummat yang berjuang secara terus menerus. Cobalah simak sejarah kaum Muslimin yang memperjuangkan Islam dengan susah payah di masa Rasulallah saw, sebagaimana yang diceritakan Al Qurâan sendiri, yaitu:

“Sesungguhnya Allah berkenan menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Nabi (dalam perang Tabuk), di saat (mereka) menghadapi kesusahan” (QS At Taubah 117).

Tentang kejadian ini, Imam Ibnu katsir berkata3): ["Mereka telah keluar ke perbatasan Syam pada tahun terjadinyaa perang Tabuk, di saat panas membara, dalam keadaan susah-payah yang hanya Allahlah yang mengetahuinya. Mereka sangat menderita, sehingga telah sampai kepada kita bahwa kadang-kadang dua orang laki-laki membelah satu buah korma untuk dimakan bersama. Kadang-kadang ada sekelompok orang yang mengambil satu buah korma, lalu masing-masing mengunyamnya dan meneguk airnya, lantas digilirkannya kepada yang lain"].

Pada saat itu, keluarnya Kaum Muslimin ke medan pertempuran (perang Tabuk) diwajibkan atas setiap muslim. Oleh karena itu, terhadap tiga orang dari kalangan shahabat Anshar, yang tidak ikut berangkat bersama Rasulullah dan kaum muslimin, yaitu Kaab bin Malik, Hilal bin Umayah dan Mararah bin Rabi’ah dijatuhkan hukuman pemboikotan total atas mereka, sebagaimana yang diterangkan oleh ayat berikutnya. Kemudian Allah menjelaskan keutamaan kesabaran dan pengorbanan mereka dengan firmanNya:

“Tidaklah sepatutnya penduduk Madinah dan orang-orang Arab badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang). Dan tidak patut pula bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. (Orang-orang yang demikian itu tidak mendapatkan imbalan sebagai mujahidin), yang mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat (peperangan) yang membangkitkan amarah orang-orang kafir. Dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu sebagai suatu amal shaleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan orang-orang yang berbuat baik. Juga, mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil maupun yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal yang shaleh pula). Karena itu, Allah akan memberikan balasan yang lebih baik kepada mereka daripada apa yang telah mereka kerjakan” (At Taubah: 120-121).

Seorang muslim diwajibkan berjihad/berperang fi sabilillah sesuai dengan perintah Allah SWT:

“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal itu adalah suatu hal yang kalian benci” (Al Baqarah: 216).

Jihad itu diwajibkan, walaupun menyebabkan dirinya terbunuh, terluka, ditawan musuh, atau meninggalkan harta dan orang-orang yang dicintainya. Melibatkan diri dalam jihad, tidak diserahkan pada semangat individu. Tidak diperhatikan apakah ia bersedia mengorbankan sesuatu atau tidak, melainkan ia dipaksa untuk melakukannya. Sebab, Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, Isteri-isteri kalian, keluarga kalian, dan harta benda yang kalian dapatkan, serta perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, juga tempat-tempat tinggal yang kamu sukai lebih kalian cintai daripada mencintai Allah dan RasulNya, serta jihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan azhab dengan perintahnya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk bagi orang-orang yang fasik” (At Taubah: 24).

Lagi pula Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin itu diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka. Maka, hendaklah mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qurâan. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka, bergembiralah kalian dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Dan itulah kemenangan yang besar” (At Taubah: 111).

Oleh karena itu, jika seorang Muslim dibebani sikap pengorbanan dalam urusan jihad fi sabilillah, maka tidak aneh lagi apabila dalam hal mengerjakan amar ma’ruf dan nahi munkar, ia mempunyai sikap yang sama atau yang mirip dengannya, seperti mengorbankan semua atau sebagian hartanya, mengorbankan jiwanya atau menerima siksaan yang menyebabkan tubuhnya terluka atau cacat selamanya, dan lain sebagainya.

Masalah ini berkaitan dengan nash syara’ yang berupa taklif syar’i (kewajiban) dan tidak dikaitkan dengan keinginan individu untuk menentukan kemampuan dan kesanggupan sesuai dengan hawa nafsunya. Misalnya dalam hal mengerjakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, atau berjuang untuk meruntuhkan sistem komunis/sosialis maupun sekularisme yang kufur, atau berjuang untuk menegakkan negara khilafah Islam yang akan menjalankan urusan pemerintahannya berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah SWT [Islam]; maka Allah SWT telah mewajibkan kaum muslimin untuk mengorbankan harta dan diri mereka; di samping menahan diri dalam menerima cobaan, siksaan, kehinaan, dan kesulitan, serta senantiasa bersabar dalam menghadapi tantangan tersebut. Sebagaimana sikapnya dalam melakukan jihad, walaupun hukum-hukum jihad berbeda dengan hukum-hukum yang menyangkut amar ma’ruf nahi munkar atau hukum-hukum yang menyangkut tegaknya khilafah Islam.

Tentang sikap pengorbanan dalam melakukan mar ma’ruf dan nahi munkar, serta dalam usaha menegakkan khilafah Islam, terdapat banyak hadits dari Rasulullah saw yang mengharuskan adanya sikap yang demikian itu, antara lain sabdanya4):

“Pemimpin para syuhada’ itu ialah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang lalim, lalu ia menyuruhnya berbuat baik dan mencegahnya berbuat munkar, kemudian ia dibunuhnya”.

“Jadilah seperti para shahabat ‘Isa, yang telah digergaji dan disalib. Demi Allah, mati dalam keadaan mentaati Allah itu, lebih baik dari pada hidup dalam maksiyat kepadaNya”.

“Janganlah seseorang di antara kalian dihalangi rasa takut kepada masyarakat untuk tidak menyampaikan kata-kata yang haq, bila ia sudah mengetahuinya”6).

“Siapa saja yang melihat (suatu) kemunkaran, maka hendaklah ia berusaha mengubahnya dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu (dengan tangannya), hendaklah ia berusaha dengan lisannya. Dan apabila ia tidak mampu juga, hendaklah ia berusaha mengngkari dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah Iman”7).

Imam Nawawi menjelaskan hadits ini sebagai berikut8):

["Adapun sabda beliau: "Hendaklah kalian mengubahnya", itu merupakan perintah wajib yang telah disepkati oleh seluruh umat tanpa kecuali. Perintah amar ma'ruf dan nahi munkar ini telah ditetapkan dalam Al Qurâan, As Sunnah dan Ijma' ummat. Juga, dapat dikategorikan dalam penyampaian nasehat, yang tidak lain adalah pangkal agama". Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah saw bersabda9): "Allah SWT pada hari Kiamat akan bertanya kepada orang (yang tidak berani menyampaikan kebenaran):

"Apakah yang membuatmu tidak mau mengucapkan (kebenaran) terhadap keadaan ini dan itu?' Orang tersebut menjawab: 'Karena takut (kemarahan) masyarakat!' Maka [Dia] berfirman: ‘Akulah Yang lebih baik kamu takuti’”].

Sistem pemerintahan kufur [sekuler] yang sedang berkuasa di negeri-negeri kaum muslimin saat ini adalah kemunkaran yang terbesar di dunia. Bahkan, itulah pangkal

kejahatan yang senantiasa menghalangi pelaksanaan perbuatan ma’ruf (kebaikan), dan selalu mengembangkan dan melindungi kemunkaran. Oleh karena itu, pangkal kemungkaran ini harus dilenyapkan. Ketetapan ini telah diketahui dengan pasti sebagai sesuatu yang Ma’lumun minad Diini bidldlarurah, yakni hukum yang telah ditentukan oleh Islam dengan pasti, bahwa sistem pemerintahan seperti itu merupakan puncak kemunkaran. Tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak tahu kenyataan ini, betapa pun rendah pengetahuannya.

Setiap muslim, khususnya penguasa yang ada sekarang, walaupun ia menerapkan sebagian kecil saja dari sistem Islam, bisa saja ia melakukan upaya untuk menghilangkan kemungkaran /kekufuran ini, dan menegakkan kekuasaan Islam di negeri-negeri kaum Muslimin yang menjalankan urusan pemerintahannya sesuai dengan apa yang telah diturunkan Allah SWT semata (Islam), bukan apa yang sering diekspor oleh Barat maupun Rusia ke negeri-negeri kaum Muslimin.

Orang Islam yang tidak mengupayakan hal ini, telah berdosa dan telah melalaikan kewajiban-kewajiban agamanya. Dosa itu akan berlipat ganda bagi para penguasa yang masih mempercayai Islam, tetapi takut oleh ancaman oleh negara-negara adidaya bila melaksanakan seluruh hukum dan peraturan Islam, politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan, maupun hukum dan perdata. Tidak ada rukhshah apapun bagi seorang Muslim untuk tetap berdiam diri terhadap pelaksanaan kewajiban ini, dengan alasan hadits yang disebut dalam pertanyaan di atas, ataupun bertolak dari alasan-alasan lain.

Orang-orang yang mencari-cari rukhshah untuk melepaskan tanggung jawab dan tetap berdiam diri terhadap kondisi yang ada, dosanya semakin bertambah, khususnya apabila ia ikut pula menyebarkan rasa pesimis, rela menerima kehinaan, dan atau merasa bahwa umat ini sudah tidak berdaya lagi setelah dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Lebih-lebih lagi bila ia mengajak umat untuk tunduk kepada penguasa-penguasa kafir, zhalim ataupun fasik, serta mengajaknya berkompromi dengan mereka, padahal para penguasa tersebut belum mengubah sikapnya atau tetap menolak agama dan sistem Islam yang dapat melestarikan kehidupan negara dan masyarakat.

Mudah-mudahan para penguasa Muslim maupun umat Islam menyadari kewajibannya terhadap tegaknya Islam di muka bumi ini sebagai suatu kekuatan ideologis yang prima.

Sumber : Soal-Jawab Seputar Gerakan Islam, Abdurrahman Muhammad Khalid, Pustaka Thoriqul Izzah, Januari 1994.

——————-

1) Lihat Nashiruddin Al Albani, “Silsilatul Ash Shahihah” II/172.

2) Lihat Tafsir Ibnu Katsir, jilid II, halaman 588-589.

3) Lihat Tafsir Ibnu Katsir, jilid II, halaman 397.

4) Lihat Al Mustadrak, Al Hakim An Naisaburi, III/195; Al Mu’jam Ash Shaghir, Imam Ath Thabrani, I/264)

6) Shahih Ibnu Hibban, hadits no 278; dan Sunan Ibnu Majah, hadits no. 4007.

7) Shahih Muslim, no. 49; Sunan Abu Dawud, no. 1140, 4340; Sunan Tirmidzi hadits no. 2173; Sunan An Nasa’i VIII/111; dan Sunan Ibnu Majah No. 4013.

8) Lihat Syarah Shahih Muslim, jilid II, halaman 21.

9) Lihat Sunan Ibnu Majah, hadits no. 4008.
Diposkan oleh Mush'ab Abdurrahman di 02:18

Read More

Ada Yang Bilang Cinta Padaku?



Masa remaja itu dibilang masa yang penuh coba – coba. Mode pakaian pun dicoba – coba. Gaya potong rambut pun coba – coba meniru ala artis ibukota. Toh, semua itu menjadi trend tersendiri di dalam kondisi masyarakat yang tengah mengalami degredasi nilai keagamaan. Kalau dalam kajian – kajian biasa disebut dengan namanya ghazwul fikri.

Namanya juga kalah dalam perang fisik, maka para orang – orang pembenci Islam melakukan berbagai cara untuk berusaha bagaimana agar para generasi muda Islam semakin jauh dari agamanya. Maka dilakukanlah berbagai infiltrasi – infiltrasi budaya, pemikiran, dan tsaqofah – tsaqofah (ilmu pengetahuan) yang jelas itu berlainan dan bertentangan dengan Islam, namun di dalam kenyataan realitas masyarakat itu menjadi sebuah nilai yang benar. Inillah celah besar orang yang membenci Islam untuk menghancurkan Islam, lewat generasi mudanya yang masih suka coba – coba.

Eits, tapi tunggu dulu. Saya di sini tidak akan membahas tentang bagaimana konspirasi orang yang membenci Islam (baca: Barat) untuk menghancurkan Islam. Mungkin itu akan saya tulis di dalam lapak posting artikel yang berbeda. Toh, kelihatannya yang baca blog saya ini masih terlalu Ababil (Asli Baru Belajar Ilmu Islam), jadi biar gak begitu kaget dan syok (harusnya: shock tapi karena yg baca ada orang sunda, jadi syok atuh :D ) maka pembahasannya nanti saja. Kecuali kalo sudah siap halaqah, nanti ini dibahas secara mendalam, cemerlang, sampai kelar – kelar.

Baik, pembahasan kali ini hanya seputar masalah Anak Sholeh Yang Baru Belajar Islam. Ceritanya tuh bermula saat Anak Sholeh ini memutuskan untuk belajar dan mengkaji Islam lewat halaqah – halaqah yang benar – benar intensif.

Salah satu tantangan dari awal perhalaqahan yaitu saat ditanya oleh musyrif (ada yang menyebut murabbi’, ustadz, mentor, dsb.) yaitu orang yang mengajari seseorang melalui perhalaqahan intensif mingguan tentang berbagai masalah Islam. Biasanya bagi seorang musyrif yang mendapatkan daris (pelajar) baru dan notabene masih Bujang bin Jomblo akan bertanya, “Antum masih punya pacar?” Hehe :D

Maka dengan agak gemetar, si Anak Sholeh ini pun akan menjawab dengan tertatih – tatih sambil keringetan.”Iya tadz, emang kenapa ya?”

Dan biasanya lagi, musyrif itu akan tersenyum, entah itu senyum maksudnya gimana. Sepemahaman penulis juga gak ada tuh dalil tersenyum kalau ada orang yg ditanya masih punya pacar terus menjawab iya. Sambil senyum musyrif itu pun bertanya lagi, “Antum itu sholeh, jangan biarkan kesholehan antum terkikis oleh sesuatu yang jelas menjauhkan dari kesholehan itu”.

Maka, terjadilah diskusi. . . . blab bla bla bla.

Satu jam. Dua jam. Tiga jam (Eits, udah dulu, maksimal kan cuma 2 jam tiap pertemuan)

Maka diskusi pun diakhiri dengan kesimpulan, “Kalau mau jadi Anak Sholeh, hindari sesuatu hal yang mengarah pada maksiat berkelanjutan”. Kalau saya sendiri, mendefinisikan maksiat berkelanjutan ya PACARAN. Kenapa tuh kok PACARAN menjadi maksiat berkelanjutan? Ntar baca postingan saya selanjutnya (insya Allah).

Hem, ternyata si Anak Sholeh ini pun dengan haqqul yakin (keliatannya sih begitu) datang ke pacarnya, PUTUS! Begitulah kata intinya.

Eh, ternyata cobaan sesungguhnya bukan tatkala Anak Sholeh itu memutuskan untuk PUTUS dengan pacarnya, melainkan  . . . . (biar kepo nih! Hehe :D )

Melainkan tatkala ia semakin memutuskan untuk mendalami Islam. Kajian – kajian, halaqah – halaqah yang ia ikuti, semakin menguatkan hatinya bahwa apa yang ia putuskan kemarin itu benar. PUTUS pacaran itu pilihan yang tepat agar terhindar dari maksiat berkelanjutan. Eh rupa – rupanya, keseriusan itulah yang menyebabkan banyak akhwat – akhwat (cewek – cewek) pada naksir. Mereka melihat kesholehan Anak Sholeh itu sebagai sebuah nilai tersendiri. Maka hati mereka pun semakin kesengsem.

“Bagaimanapun ia harus jadi milikku”, gumam seorang cewek.

Namun para cewek itu sadar, tidak mudah untuk mengatakan cinta pada Anak Sholeh itu. Mereka pun berfikir bagaimana caranya agar  mereka bisa tetap dekat dengan Anak Sholeh. Berbagai dalih pun mereka lakukan, dari mulai kirim SMS ngajak tahajud, ngajak shaum sunnah, ngajak tafakur alam, dsb. Hehe :D

Namun ternyata dalih itu tetap belum meluluhkan hati si Anak Sholeh. Ternyata mereka tidak mau berhenti berusaha, mereka pun semakin meneliti dimana Anak Sholeh itu melakukan kajian atau halaqahnya. Setelah mereka mengetahui, mereka pun bertanya apakah mereka juga bisa ikut bareng. (Eits, bisa lah. Tapi gak mungkin sekelompok. Cewek ya dibina cewek lah, masa pembinaannya dicampur. Apaan tuh? )

Wah, setelah tau harus dipisah. Akhirnya mereka pun tidak mengambil opsi itu. Dicarilah cara yang lain. Eh, ketemu juga. Ada sebuah dalil dari hadits, yang intinya. Tidaklah seseorang dianggap beriman sebelum ia mencintai saudaranya dari dirinya sendiri.
Maka lewat SMS, lewat chatting FB, twitter, dan sebagainya dikirimlah sebuah pesan yang isinya kurang lebih seperti ini :

“Assalammu’alaikum. Nabi pernah berpesan, bahwa belumlah seseorang dikatakan beriman sebelum ia mencintai saudaranya daripada dirinya sendiri. Ana mau menjadi orang yang beriman, maka izinkanlah ana mengucapkan:
“ANA UHIBBUKA LILLAHI TA’ALA, Akhi”
Wassalammu’alaikum”

Pesan yang pendek ya!
Nah, bagaimana Islam mengatasi problematika ini, maka jawabannya adalah . . .
Jawablah  ucapan itu dengan balasan do’a seperti di bawah ini.

أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ
“Semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karenaNya”


Namun perlu digaris bawahi, tidak menerima bentuk percintaan semacam pacaran, dan lain sebagainya. Kalau benar cinta ya nikahi. Kalau tidak? YA SUDAHI.

Itulah sekelumit saran dari saya, kalau nanti ada yang baru ikut halaqah dan tiba – tiba ada cewek yang bilang seperti itu, maka jawablah do’a di atas. Tapi tetap ya, diingat. Tidak Menerima bentuk percintaan semacam pacaran dan lain – lain sebagainya. Kalau benar cinta ya nikahi. Kalau tidak? YA SUDAHI.

Kok diulangi sih?

Biar kamu mudeng (tau) maksudnya gimana. Biar gak telmi (Telat Menyesali) Hehe :D

Salam BerkahBarakah!

Read More
,

Why must Dream ?



Impian terkadang menakutkan untuk dibayangka. Benar saja. Di dalam impian ada kemungkinan tidak terlaksana. Ada kemungkinan hancur di tengah jalan. Ada kemungkinan merugikan akhirnya.

Dikisahkan, ada seorang pengusaha yang sangat optimiser. Setiap apapun yang ia lihat, di situ ada peluang dan uang. Tiap ia memegang sesuatu pasti itu menjadi uang.

Suatu hari, pengusaha tersebut melihat ada peluang usaha dan bisnis di bidang telekomunikasi, usahanya mendirikan wartel (warung telepon). Segala impiannya ia bangun, bahwa usaha itu akan sukses dan menguntungkan. Bagaimanapun kebutuhan akan media komunikasi sekarang sangatlah dibutuhkan oleh setiap orang.

Singkat cerita, mulailah ia membangun usahanya tersebut di bidang komunikasi, pelayanan jasa wartel. Ruko – ruko yang ia miliki dan tersebar di berbagai tempat ia rubah menjadi jasa pelayanan telekomunikasi, wartel. Bahkan hampir seluruh modal dan keuntungan  usaha – usaha yang lain ia gunakan untuk keperluan usaha yang baru ini, wartel.
           
Selang beberapa bulan, wartel milik usahanya itu pun mulai memperlihatkan hasilnya. Banyak pengunjung yang datang. Usaha wartelnya pun memperoleh keuntungan. Seperti yang ia impikan semula. Bahwa kebutuhan telekomunikasi bagi manusia saat ini adalah harga mati.
           
Uang pun semakin lama semakin berdatangan. Semua modal yang dahulu ia gunakan kini telah kembali dan malah menghasilkan keuntungan tak ternilai lagi. Sudah bisa dibilang, on the top of success.
           
Sebuah hasil pencapaian yang telah lama ia impikan dengan diinvestasikan modalnya pada usaha wartel. Sebuah impian yang dahulu sebatas harapan kini menjadi kenyataan. Sebuah impian yang di setiap malam ia panjatkan ternyata berbuah penghasilan. Ternyata Allah Maha Baik, syukurnya.
           
Namun, rencana manusia tidak sama dengan rencana Tuhan. Saat usahanya sedang on the top, bahasa gaulnya “Darah Muda” lah. Ternyata terjadi perkembangan alat komunikasi mobile, dikenal Handphone (HP).
            HP yang mana diperuntukan untuk alat komunikasi yang mampu dan bisa dibawa kemana – mana (mobile) ternyata mampu menggerus kedigdayaan telepon kabel. Dan wartel, adalah salah satu jenis usaha yang paling bergantung kepada telepon berkabel. Di samping itu, munculnya fendor – fendor selular yang banyak dan dengan menawarkan berbagai produk yang hemat dan terjangkau menambah keruwetan bisnisnya. Bagaimanapun usahanya sangat tergantung dari bidang ini.
           
Tatkala banyak vendor yang menawarkan produk dengan harga terjangkau dan hemat menyebabkan implikasi berkurangnya konsumen yang menggunakan jasa wartel lagi. Para konsumen mulai beralih menggunakan HP yang menyediakan berbagai produk – produk yang hemat dan terjangkau. Walhasil bisnisnya pun mulai goyah, dan celakanya sampai merugi.
           
Kalau merugi saja sih tidak masalah. Kenyataannya lain, modal – modal yang dahulu sudah kembali dari keuntungan, harus menutupi kerugian – kerugian di sana – sini. Ruko – ruko yang sudah tidak sanggup ia bayar. Gaji karyawan yang menunggak berbulan – bulan, tagihan listrik yang tak terbayarkan, pinjaman – pinjaman usaha yang entah kemana larinya. Menyebabkan hidupnya seperti naik pesawat yang tiba 0 tiba ia lompat dari ketinggian. Bruukkk Gudraaakk.
           
Dunia seperti tidak mendukung. Yang tadinya penuh dengan kemewahan dan harta. Sekarang malah menjadi pesakitan penuh dengan hutang bak lautan membara.
           
Belum sampai hanya di situ. Ditambah lagi, munculnya manusia – manusia dengan sosok setan datang. Menebar kata – kata sinis yang menyakitkan.

  •   Wah, jadi miskin lagi ya?
  •   Susah emang, kalo takdir miskin ya miskin.
  •   Untung dulu gak ikut bisnis itu. Bangkrut deh.
  •    Bisnis itu dak usah muluk – muluk.
  •    Sakit kan kalau jatuh.
  •    Kasihan tuh istri dan anak – anakmu.


Sebuah kenyataan yang harus dipikul. Mau ditinggalkan sudah tidak mungkin. Mau diselesaikan apa daya tak kuasa. Kayaknya enak deh mati (Idihlah . . . bosnya setan kalo gitu!).

Bukan hanya ada satu atau dua contoh yang seperti itu, melainkan banyak tak terhitung lagi bahwa ketika mendapati sebuah ujian dan mengalami kegagalan dalam meraih impian. Tak kuasa menghadapi, dipikir mati bunuh diri pilihan terbaik. Bodoh sekali.

Dan ingatlah bahwa musuh – musuh kita, orang munafik sangat suka dengan kegagalan dan kebangkrutan kita. Mereka setiap waktu berharap apa yang kita rasakan, kesuksesan, kebahagiaan, ketentraman, kenyamanan, segera menghilang dan berganti dengan kesedihan, keterpurukan, kenistaan, keputus asaan.


“Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya, dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memerhatikan urusan kami (tidak ikut perang)” dan mereka kemudian berpaling dengan rasa gembira”. (Q.S. At Taubah [9]: 50)


Maka pantas lah, Allah SWT menjuluki mereka dengan sebutan lebih hina dari binatang ternak. Dan sebagai orang yang memiliki impian maka tidak salah memakai cara saya, belajar menjadi tuli dan buta tentang perkataan – perkataan seperti itu, Destroyer Motivation.

Masa begitu aja kalah sama para SINISER dan Destroyer Motivation? Ih . . . gak banget deh!!!

----------------------***----------------------

Why Must Dream?
Ketika Anda Bermimpi dan Mempunyai Impian, kebangkitan dari kegagalan merupakan
Kekuatan Meraih Impian.
Itulah Kenapa Harus Tetap Bermimpi dan Mempunyai Impian.

------------------***--------------------
Read More